banner 728x250

Aktivis Orang Utan Birute Galdikas Wafat, Menhut Kenang Dedikasinya di Kalteng

banner 120x600
banner 468x60

Jakarta – Dunia konservasi kehilangan salah satu ikon terbesarnya. Birute Mary Galdikas, seorang aktivis dan peneliti primata kelas dunia yang telah mendedikasikan lebih dari lima dekade hidupnya untuk konservasi orang utan di hutan Kalimantan, dikabarkan meninggal dunia. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan duka cita mendalam atas kepergian sosok legendaris ini, mengenang jasa-jasa tak terhingga yang telah diukirnya di pedalaman hutan Kalimantan Tengah.

"Atas nama Kementerian Kehutanan, saya mengucapkan bela sungkawa sedalam-dalamnya atas kepergian Bu Birute. Indonesia kehilangan salah seorang putri terbaik yang bekerja keras dalam senyap selama puluhan tahun di pedalaman hutan Kalteng untuk konservasi habitat orang utan," kata Raja Juli dalam keterangan resminya, Rabu (25/3/2026). Pernyataan ini menegaskan betapa besar kontribusi Galdikas, yang meski berasal dari Kanada, telah mengabdikan diri sepenuhnya untuk Bumi Pertiwi, khususnya dalam menjaga kelestarian makhluk yang menjadi ikon hutan Borneo.

banner 325x300

Menteri Raja Juli melanjutkan, "Bila hari ini Anda melihat Taman Nasional Tanjung Puting yang indah-terjaga dengan orang utan yang membuat Anda berdecak kagum, tanpa terlihat Anda akan temukan jejak kaki dan tangan seorang perempuan berhati keras, berkomitmen tinggi—selain rumah tua dari kayu yang beliau dirikan diawal tahun 70-an." Kalimat ini secara gamblang melukiskan Birute Galdikas sebagai arsitek di balik keindahan dan kelestarian Taman Nasional Tanjung Puting, sebuah warisan abadi yang akan terus hidup dan berkembang berkat dedikasinya. Rumah tua dari kayu yang dimaksud adalah Camp Leakey, sebuah stasiun penelitian ikonik yang didirikannya pada tahun 1971, yang menjadi jantung riset dan rehabilitasi orang utan selama puluhan tahun.

Birute Galdikas adalah salah satu dari "The Trimates," sebutan untuk tiga primatolog wanita yang direkrut oleh antropolog legendaris Louis Leakey untuk mempelajari primata di habitat alaminya. Bersama Jane Goodall yang mempelajari simpanse di Tanzania dan Dian Fossey yang meneliti gorila gunung di Rwanda, Galdikas memilih orang utan Bornean di hutan Kalimantan sebagai objek penelitiannya. Perjalanan Galdikas ke Kalimantan pada tahun 1971, sebagai seorang wanita muda dari Kanada dengan tekad baja, menandai dimulainya sebuah epik konservasi yang akan mengubah pandangan dunia terhadap orang utan. Tanpa fasilitas modern, dengan tantangan alam yang ekstrem dan jauh dari peradaban, ia membangun basis risetnya dan memulai pengamatan yang mendalam terhadap perilaku, ekologi, dan kehidupan sosial orang utan liar.

Dedikasinya tidak hanya terbatas pada penelitian ilmiah. Seiring berjalannya waktu, Birute Galdikas menyaksikan langsung ancaman serius terhadap habitat orang utan akibat deforestasi, penebangan liar, dan ekspansi perkebunan kelapa sawit yang masif. Hatinya tergerak untuk tidak hanya mengamati, tetapi juga menyelamatkan. Ia mendirikan Orangutan Foundation International (OFI) pada tahun 1986, sebuah organisasi yang kini menjadi garda terdepan dalam penyelamatan, rehabilitasi, dan reintroduksi orang utan ke habitat alaminya. Melalui OFI, ribuan orang utan yatim piatu dan terluka telah mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup, dan puluhan ribu hektar hutan telah berhasil dilindungi dari perusakan.

Perjuangan Birute Galdikas seringkali berjalan beriringan dengan berbagai rintangan, baik dari segi logistik, pendanaan, maupun tantangan politik dan sosial. Ia harus berhadapan dengan perusahaan-perusahaan besar, pemburu liar, dan bahkan terkadang birokrasi yang rumit. Namun, dengan kegigihan dan komitmen yang tak tergoyahkan, ia terus menyuarakan pentingnya konservasi orang utan, tidak hanya sebagai spesies yang terancam punah, tetapi juga sebagai indikator kesehatan ekosistem hutan yang lebih luas. Melalui tulisan-tulisannya, film dokumenter, dan ceramah di berbagai forum internasional, Birute berhasil menarik perhatian dunia terhadap nasib orang utan dan urgensi perlindungan hutan hujan tropis Kalimantan.

Raja Juli Antoni memiliki kesan mendalam saat bertemu Birute Galdikas. Ia menceritakan momen tersebut terjadi di awal masa jabatannya sebagai Menteri Kehutanan, ketika membuka kembali ruang dialog dengan para pegiat konservasi. Diskusi yang sempat terhenti selama delapan tahun itu disambut haru oleh Birute Galdikas, yang melihatnya sebagai sebuah titik terang dan harapan baru bagi masa depan konservasi di Indonesia. "Mengingat suaminya dan kerja keras yang mereka lakukan selama ini, dan pintu Manggala terbuka kembali untuk berdiskusi, bercengkrama bahkan menyampaikan kritik yang pedas sekalipun," ujar Raja Juli, menggarisbawahi betapa pentingnya komunikasi terbuka antara pemerintah dan para aktivis. Momen tersebut menjadi simbol rekonsiliasi dan komitmen bersama untuk melanjutkan perjuangan konservasi yang telah dirintis Birute.

Hubungan emosional Birute Galdikas dengan Indonesia begitu kuat, melebihi sekadar seorang peneliti asing. Ia telah menganggap Kalimantan sebagai rumahnya, dan orang utan sebagai bagian dari keluarganya. Tidak mengherankan jika wasiat terakhirnya adalah untuk dimakamkan di tanah yang telah ia cintai dan perjuangkan. Raja Juli lantas mengungkapkan pesan terakhir dari Birute Galdikas terkait keinginannya dimakamkan di Indonesia. Wasiat tersebut disampaikan melalui putra Birute, Fred Galdikas, yang menyebut ibunya ingin dimakamkan di tanah Dayak, Kalimantan Tengah, berdekatan dengan pusara sang suami, Bapak Oki Tjokrohadikusumo, atau yang lebih dikenal sebagai Pak Bohap, yang juga merupakan seorang aktivis konservasi dan pendamping hidup Birute selama puluhan tahun. Keinginan ini adalah cerminan dari betapa dalam ikatan batinnya dengan Kalimantan dan warisan yang telah ia bangun di sana.

Mendengar wasiat tersebut, Menteri Raja Juli Antoni segera mengambil tindakan. Ia menyebut telah berkoordinasi dengan sejumlah perwakilan Indonesia di luar negeri untuk mempercepat proses tersebut. "Alhamdulillah saya sudah mendapatkan no hp Konjen kita di LA dari Pak Umar Hadi, PTRI New York. Bahkan, saya mendapat WA dari Pak Dubes kita di DC, Pak Indroyono, yang memberitakan kepergian Ibu Birute. Kepada beliau saya titipkan pengurusan administrasi di KJRI LA. Semoga prosesnya cepat," ucap Raja Juli, menunjukkan keseriusan dan respons cepat pemerintah Indonesia dalam memenuhi keinginan terakhir Birute Galdikas. Proses pemulangan jenazah dari Los Angeles, tempat Birute dikabarkan meninggal, menuju tanah air, diharapkan dapat berjalan lancar dan segera terealisasi sesuai dengan wasiat mulianya.

Kepergian Birute Galdikas meninggalkan duka mendalam, namun sekaligus mengukuhkan warisan abadi. Ia bukan hanya seorang ilmuwan, tetapi juga seorang pejuang, pelindung, dan inspirator. Dedikasinya yang tanpa pamrih telah menyelamatkan spesies, melindungi habitat, dan mendidik jutaan orang di seluruh dunia tentang pentingnya keanekaragaman hayati. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Kehutanan, berkomitmen untuk terus menjaga dan mengembangkan apa yang telah dirintis Birute Galdikas. Taman Nasional Tanjung Puting, Camp Leakey, dan ribuan orang utan yang kini hidup bebas di hutan Kalimantan adalah monumen hidup bagi seorang wanita luar biasa yang memilih untuk mendedikasikan hidupnya untuk sebuah tujuan yang lebih besar dari dirinya sendiri. Kepergiannya adalah pengingat bahwa perjuangan untuk konservasi belum usai, dan semangat Birute Galdikas akan terus menyala, menginspirasi generasi-generasi mendatang untuk terus menjaga keindahan alam Indonesia.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *