RUPSLB PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) resmi menunjuk Nanang Hendarno sebagai Direktur Utama perusahaan yang baru. Penunjukan ini menandai babak baru kepemimpinan BUMN telekomunikasi tersebut dalam mengarungi transformasi bisnis strategis di industri telekomunikasi nasional.
Nanang Hendarno menduduki posisi puncak menggantikan Dian Siswarini yang baru menjabat pada Mei 2025. Sebelum dipercaya memimpin Telkom Indonesia secara keseluruhan, Nanang sudah tidak asing lagi dengan operasional perusahaan karena sebelumnya menduduki posisi sebagai Direktur Network Telkom Indonesia.
Selain perubahan pada jajaran kepemimpinan puncak, RUPSLB TLKM juga membuahkan keputusan strategis mendasar terkait struktur bisnis korporasi. Pemegang saham secara resmi memberikan persetujuan atas aksi korporasi pemisahan bisnis dan aset wholesale fiber connectivity ke InfraNexia.
Direktur Utama Telkom yang baru, Nanang Hendarno, menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas keputusan yang diambil oleh para pemegang saham. Ia menegaskan bahwa dukungan pemegang saham sangat krusial bagi keberlanjutan langkah strategis perseroan.
“Alhamdulillah hari ini Telkom telah memperoleh persetujuan dari pemegang saham dalam RUPSLB atas aksi korporasi pemisahan bisnis dan aset wholesale fiber connectivity ke InfraNexia,” ujar Nanang Hendarno saat memberikan keterangan dalam sesi konferensi pers setelah pelaksanaan RUPSLB.
Aksi korporasi pemisahan bisnis dan aset jaringan kabel serat optik skala grosir ini menjadi langkah nyata Telkom dalam melakukan penataan portofolio bisnisnya. Pemisahan tersebut dirancang untuk memaksimalkan potensi nilai dari infrastruktur yang dimiliki perseroan agar dapat beroperasi secara lebih fokus dan kompetitif.
Melalui pelaksanaan aksi korporasi ini, Telkom secara resmi melakukan proses transisi model bisnis korporasinya secara fundamental. Perusahaan pelat merah ini bertransformasi dari yang sebelumnya bertindak sebagai operating holding kini beralih menjadi strategic holding.
Perubahan menjadi strategic holding memberikan ruang bagi Telkom untuk berfokus pada pengawasan kinerja, alokasi modal, serta arah kebijakan strategis grup secara keseluruhan, sementara operasional bisnis infrastruktur dijalankan oleh unit usaha seperti InfraNexia.
Langkah penataan kepemimpinan dan restu atas pengalihan aset ke InfraNexia ini diharapkan dapat semakin memperkuat posisi perseroan dalam lanskap industri komunikasi. Ke depan, Telkom terus berkomitmen untuk menjalankan strategi efisiensi dan optimalisasi nilai korporasi demi kepentingan seluruh pemegang saham dan pemangku kepentingan.


















