Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Ekonomi

Pengunjung Memantau Layar Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia

×

Pengunjung Memantau Layar Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Pengunjung memantau layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (20/10/2026).

Meski IHSG melonjak 4,18 persen, analis menilai keberlanjutan penguatan pasar masih bergantung pada konsistensi reformasi dan pemulihan kepercayaan investor. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:

Example 300x600

Transaksi Investor Asing di Sesi I IHSG: Jual Rp 7,93 T, Beli Rp 5,96 T Pada perdagangan sesi I, Selasa (20/10), IHSG melesat 4,18 persen ke level 5.204,63.

Meski pasar menguat, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net foreign sell) mencapai Rp 1,97 triliun di pasar saham Indonesia. Angka tersebut berasal dari akumulasi transaksi jual investor asing sebesar Rp 7,93 triliun, sementara nilai transaksi beli hanya menyentuh Rp 5,96 triliun.

Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, tekanan jual asing paling deras melanda saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan penjualan bersih mencapai Rp 1,02 triliun. Posisi berikutnya diisi oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dengan net sell sebesar Rp 245,04 miliar dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) senilai Rp 208,97 miliar.

Selain perbankan, aset waran PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG-R) juga dilepas sebesar Rp 120,71 miliar, disusul PT Indosat Tbk (ISAT) sebesar Rp 92,67 miliar. Di tengah tekanan jual tersebut, investor asing masih membukukan net buy pada beberapa saham pilihan.

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menjadi saham yang paling banyak diborong dengan nilai beli bersih sebesar Rp 175,47 miliar. Saham lain yang mencatatkan pembelian bersih antara lain PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) senilai Rp 50,70 miliar dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) sebesar Rp 35,99 miliar.

IHSG Melonjak 4,18 Persen ke 5.201, Analis Sebut Reformasi BEI Masih Diuji Pengunjung memantau layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026).

Penguatan ini dinilai menjadi sinyal awal positif bagi pasar saham, meski keberlanjutan kenaikannya masih perlu dicermati. Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menyampaikan penguatan IHSG menunjukkan langkah BEI mulai mendapat respons positif dari pelaku pasar.

Meski demikian, kenaikan tersebut juga berpotensi dipengaruhi aksi beli kembali pada saham-saham berkapitalisasi besar setelah mengalami tekanan jual dalam beberapa hari terakhir. Elandry mengingatkan bahwa penguatan indeks belum membuktikan kebijakan High Shareholding Concentration (HSC) sepenuhnya efektif memulihkan kepercayaan investor.

Saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBRI, BMRI, BBCA, dan BBNI, serta TLKM, menjadi salah satu penopang penguatan IHSG pada sesi I. Menurutnya, keberlanjutan penguatan indeks perlu dilihat dari perbaikan sentimen pasar, likuiditas, dan aliran dana asing.

Pasar juga masih membutuhkan konsistensi reformasi, transparansi kepemilikan saham, serta pemulihan kepercayaan investor. Karena itu, investor diimbau tidak terburu-buru mengikuti euforia atau fear of missing out (FOMO) setelah IHSG mengalami rebound tajam.

Di sisi lain, riset BRI Danareksa Sekuritas menyoroti sejumlah sentimen yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar saham, antara lain rencana buyback saham oleh sejumlah emiten Grup Barito dan Sinar Mas yang berpotensi menopang permintaan di tengah volatilitas pasar. Di samping itu, reformasi BEI sebagai respons atas persoalan yang disoroti Morgan Stanley Capital International (MSCI) turut menjadi perhatian.

BEI berencana memperluas keterbukaan informasi afiliasi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen serta mengecualikan saham berstatus HSC dari perhitungan IHSG. Riset tersebut juga menyoroti kesiapan Danantara untuk menambah kepemilikan saham BUMN, yang dinilai mendukung optimisme terhadap saham bank BUMN.

Meski demikian, BRI Danareksa Sekuritas menilai pasar masih menunggu bukti implementasi reformasi secara konsisten di tengah konsultasi MSCI terkait reklasifikasi pasar modal Indonesia.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *