Menko Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan sambutan saat pembukaan Bali Tech Week (BTW) 2026 di Sanur, Denpasar, Bali, Senin (19/10/2026).
Meski demikian, pemerintah memastikan tidak akan menaikkan harga BBM bersubsidi. Bahlil mengakui kenaikan ICP berkonsekuensi pada membengkaknya alokasi anggaran subsidi energi.
"Kami sedang memperhitungkan harga ICP global yang naik terus.
Kenaikan ICP ini kemungkinan besar menambah beban top up subsidi, tetapi pemerintah berkomitmen tidak ada kenaikan harga BBM subsidi," kata Bahlil di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu, (21/10).
Bahlil menjelaskan, rata-rata ICP kini berada di kisaran USD 92 per barel. Selama ICP masih terjaga di bawah level USD 100 per barel, harga BBM bersubsidi dipastikan tetap stabil.
Sekarang rata-rata ICP USD 92 per barel, padahal asumsi di APBN sekitar USD 70 per barel.
Jika kondisi ini bertahan di bawah USD 100 per barel, maka harga BBM subsidi relatif aman," ujarnya.
Sebelum itu pada Senin, (19/10), Bahlil melaporkan ICP sempat menembus level USD 106 per barel akibat eskalasi konflik geopolitik global yang mengganggu rantai pasok. Akan tetapi, secara kumulatif dari Januari hingga Oktober 2026, rata-rata ICP masih terjaga di rentang USD 91 hingga USD 92 per barel.
Di sisi lain, Bahlil memastikan ketahanan stok BBM nasional berada dalam kondisi aman. Cadangan Pertalite (RON 90) kini berada di level 16 hingga 20 hari, sedangkan jenis BBM lainnya, termasuk Solar, berada di atas 20 hari.
"Untuk sektor BBM, saya pastikan cadangan nasional kita aman.
Kecuali Pertalite RON 90 yang saat ini di kisaran 16 sampai 20 hari, jenis BBM lainnya rata-rata berada di atas 20 hari," pungkas Bahlil.


















