Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengonfirmasi adanya penurunan secara signifikan pada angka kasus aksi tawuran di kawasan Kampung Melayu, Jakarta Timur. Penurunan fenomena perkelahian antarkelompok masyarakat tersebut terjadi seiring dengan berdirinya fasilitas berupa sasana olahraga tinju yang dibangun persis di area bawah Flyover Kampung Melayu. Fasilitas olahraga publik tersebut dihadirkan sebagai bentuk kepedulian sosial melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility yang dilaksanakan oleh PAM JAYA.
Berdasarkan data resmi yang disampaikan, sepanjang periode tahun 2025 lalu kawasan Kampung Melayu mencatatkan kejadian tawuran sebanyak 132 kali. Angka tersebut menjadi perhatian serius pihak pemerintah daerah dan pihak terkait dalam upaya menjaga ketertiban serta keamanan lingkungan. Namun, setelah tersedianya sarana olahraga tinju di lokasi tersebut, angka pertikaian dan perkelahian massal antargeng mengalami penurunan yang sangat drastis. Terhitung hingga kurun waktu bulan Oktober 2026, akumulasi jumlah kejadian aksi tawuran di lokasi tersebut tercatat hanya berkisar 20 kali, yang menandakan terjadinya penurunan sebanyak 112 kali kejadian.
Pramono Anung menyampaikan paparan informasi ini saat menghadiri agenda konferensi pers peluncuran JEKATE Running 2026 by PAM JAYA yang diselenggarakan di Halte Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, pada hari Minggu. Ia menegaskan bahwa keberadaan fasilitas sasana tinju di bawah flyover tersebut terbukti efektif dalam memfasilitasi dan merangkul kelompok masyarakat maupun geng-geng yang sebelumnya kerap terlibat dalam aksi perkelahian jalanan. Melalui keberadaan wadah pembinaan olahraga tersebut, para pemuda dan anggota kelompok yang dahulu saling bertikai kini dialihkan untuk berkumpul serta melakukan latihan olahraga secara bersama-sama.
Selain menyoroti keberhasilan penanganan konflik sosial di Kampung Melayu, dijelaskan pula bahwa program tanggung jawab sosial dari PAM JAYA tidak hanya berfokus pada cabang olahraga lari semata, tetapi juga merambah ke cabang olahraga tinju dan kegiatan liga aspal. Pendekatan dan strategi penanganan seperti ini dipandang perlu karena struktur masyarakat terdiri dari beragam segmen dengan latar belakang serta preferensi aktivitas yang berbeda-beda. Penyediaan sarana olahraga yang bervariasi dan terarah dinilai menjadi salah satu langkah solutif yang tepat untuk meredam potensi gesekan sosial di ruang publik.
Berlandaskan hasil positif yang telah dicapai tersebut, Gubernur DKI Jakarta meminta kepada Wali Kota Jakarta Timur untuk menggelar kejuaraan olahraga tinju secara resmi melalui ajang Piala Jakarta Timur yang dipusatkan di Kampung Melayu. Inisiatif penyelenggaraan kompetisi olahraga ini diharapkan mampu menjadi sarana pembinaan yang berkelanjutan dalam menyalurkan potensi serta energi warga ke dalam kegiatan yang jauh lebih positif, sportif, dan membanggakan bagi lingkungan sekitar.


















